Wednesday, December 15, 2004

Delicious December


Puas Mikir & Tebar Pesona

Pada satu titik gue tahu bahwa ada saatnya gue akan mengalami masa putus kontrak dan saat ini gue sedang menjalaninya. Bekerja di production house memang punya resiko seperti ini dan sepenuhnya gue sadari saat menandatangani kontrak kerja yang pertama kalinya di Famili 100. Bicara kemungkinan dikontrak lagi, sebenarnya ada namun baru bisa didiskusikan di akhir Desember ini. Jadi di antara masa menunggu itu, gue menggunakannya sebagai waktu ‘pikir-pikir,’ waktu ‘tebar pesona’ - duh, istilahnya, sembari melakukan beberapa kegiatan yg ternyata bisa lancar berjalan karena nggak adanya aktivitas kantoran seperti kemarin-kemarin. Hmm, tanpa gue sadari kondisi ini ternyata bawa untung buat gue. Thank GOD!

Puas Non Hollywood

Satu acara yg gue nikmati kemarin baru saja berlalu, JiFFest. Sekitar 11 film dari beberapa negara sempat gue tonton. Mulai dari In Oranje (Joram Lursen, Belanda), Shara (Kawase Naomi, Jepang), Nobody Knows (Hirokazu Kore-eda, Jepang), Bridal Shower (Jeffrey Jeturian, Filipina), Corte de Cabelo (Joaquim Sapinho, Portugis), Olivetti 82 (Rudi van den Bossche, Belgia), Saccharine Revenge (kompilasi film-film pendek dari Singapura, Inggris, Bosnia&Herzegovina, Hongaria, Swedia, Malaysia, Jerman), Control Room (Jehane Noujaim, film dokumenter ttg stasiun berita Al Jazeera) Chicken Rice War (Chee Kong Cheah, Singapura), In This World (buatan sutradara Inggris, Michael Winterbottom ttg perjalanan imigran Afghanistan ke London, Inggris) dan akhirnya film penutup, Bride and Prejudice (Gurinder Chandha, sutradara film Bend It Like Beckham). Satu-satunya film bagus yang gagal ditonton padahal sudah punya tiketnya, Goodbye, Lenin! Hujan yg deras amat sangat besar, penyebabnya. Moga-moga DVD-nya bisa ditemukan di sini, jadi nggak terlalu merasa menyesal ketinggalan nonton. Oya, teman nonton gue seringnya Mia –sayangnya karena ada kesibukan syuting dan acara keluarga, dia gagal nonton 3 film akhirnya- dan Ricky –secara sama-sama nggak punya kerjaan, hehehe. Tambahannya Vira dan Budi yg janjian nonton bareng pas di hari penutupan JiFFest.

Puas Nostalgia

Di sela-sela kegiatan nonton ini, gue sempat merasakan nikmatnya berjalan-jalan di sekitar Menteng. Tepatnya dari arah perempatan Kwitang ke Cikini. Awalnya, sekelar nonton Olivetti 82 di Erasmus Huis Kuningan, Sabtu lalu, Mia dan gue makan siang di depan Keris Gallery, HOS Cokroaminoto. Dari sana, naik bis dan turun di lampu merah Kebon Sirih yg mengarah ke Kwitang. Dari situ kami berjalan kaki menyusuri bangunan pertokoan lama yg menjadi tempat usaha fotokopi. Seingat gue, pas masa kuliah dulu, tempat fotokopi di wilayah ini jadi salah satu pilihan anak kampus kalau tiba-tiba aja harus buat makalah/paper yg kudu dipresentasikan esok harinya. Sambil jalan, gue terkadang menoleh, melirik isi toko-tokonya. Ada beberapa toko kelontong biasa, selain toko fotokopi. Beberapa toko lainnya tampak tutup dengan pintu berterali besi yg diganduli gembok besar di depannya.

Menyeberang Jl. Wahid Hasyim, kami berada di deretan gedung Dewan Dakwah Muhammadiyah dan Kolese Kanisius. Sempat gue liat sebentuk rumah lama yg nggak jelas digunakan sebagai apa sekarang, yg gue suka dan sempat gue komentarin; ‘Kalau gue punya banyak duit, gue mau beli rumah itu. Atau, kalau aja ada pengembang perumahan yg justru menjual propertinya dengan gaya rumah lama, bukannya Mediterania atau Toronto atau apalah sekarang namanya, gue bakal jadi orang pertama yg ambil.’ Mia lalu menjawab, ‘Kalo mau ngerasain yg seperti ini, elo ke rumah Opung gue aja di Medan. Rumahnya seperti itu, dengan langit-langit rumah yg tinggi.’ Hmm, boleh juga nih. Kapan-kapan, kalau waktunya pas dan Mia juga lagi liburan ke Medan, gue ikutan aja ke sana. Tokh, gue juga belum pernah sampai ke Medan, bukan?

Menyeberang jalan lagi di dekat lampu merah, nggak seberapa jauh dari depannya Gedung Juang 45, Mia dan gue sekarang melintasi Kantor Pos Cikini. Bangunan lama lainnya berderet di jalur ini, kebanyakan toko dan beberapa jadi tempat makan atau nongkrong yg bisa jadi pilihan buat anak muda atau orang kantoran. Ada Bakoel Koffie dan Vietopia, yg terakhir ini cocok buat mereka yg suka makanan Vietnam. Gue pernah baca ulasan ttg Vietopia, katanya sajiannya lumayan sedap dan masuk akal harganya. Bolehlah dicoba satu waktu. Pas jalan di sini, Mia sempat liat gerobak roti keliling Tan Ek Tjoan yg lagi mangkal dan dia ternyata tertarik membeli. Gue bilang nanti saja, bisa beli langsung di tokonya, yg kebetulan kami lewati. Hampir menjelang sudut jalan, kami memasuki toko roti Tan Ek Tjoan. Bangunannya cukup besar dan luas dengan lemari-lemari kaca besar untuk memajang roti atau kue-kue lainnya. Tidak terlalu banyak pilihan roti yg tersedia bila dibandingkan dengan isi di gerobak roti tadi, tapi ternyata kami juga nggak perlu memilih lebih lama karena Mia cukup puas dengan roti isi kacang dan roti poles cokelat untuk gue. Oya, di samping toko ini ada gang kecil yg jadi lintasan gerobak roti keluar dan masuk dari bagian belakang toko yg adalah pabrik roti. Buat gue, toko ini lumayan menyenangkan karena atmosfir toko tua jaman Belanda masih tersisa jadi khayalan gue belanja di jaman itu bisa terpuaskan.

Melangkah sekitar 100 meter, ada toko kue favorit ibu gue semasa beliau tinggal di Gondangdia dulu. Maison Benny namanya. Mia gue ajak mampir sebentar di toko ini, cuma untuk melihat-lihat kue apa yg mereka buat. Ada black forrest, rhoemballen, kue tar potong lainnya, yg nggak gue ingat namanya. Harganya lumayan, berkisar dari 4000-6000 per potong. Tokonya sendiri tidak terlalu menarik sebenarnya, karena agak gelap dan sempit. Namun, toko ini sepertinya tidak pernah sepi dari pembeli, terutama mereka yg berasal dari golongan tua, ‘old school.’ Artinya, orang-orang tua yg pernah merasakan sekolah atau hidup di jaman awal kemerdekaan atau juga anak-anak mereka yg telah terwariskan kebiasaan membeli kue dari toko ini. Sementara buat gue sendiri, kue-kue Maison Benny adalah bagian dari nostalgia saja. Dan tanpa terasa, perjalanan ini berakhir di TIM, yg kata ibu, dulunya adalah kebun binatang. Gue lupa tanya ma ibu, apa dia sempat main ke kebun binatang ini di masa kecilnya.

Masih ada Puas yg lain….

Hari ini, gue mesti berkemas-kemas, menyiapkan pakaian dan keperluan lain untuk pergi ke Padang besok. Bila tahun lalu dan sebelumnya, gue pergi jalan-jalan ke luar kota barengan teman main atau teman sekantor, sekarang ini gue jalan sendiri. Maksudnya, nggak barengan orang yg sudah gue kenal sebelumnya, gitu lho. Kali ini, gue pergi berombongan dengan teman-teman Sahabat Museum, yang nanti baru gue kenal orang-orangnya di bandara. Selama ini, gue hanya tahu nama-nama mereka lewat mailing list-nya saja. Brif singkat keberangkatan sudah gue terima dari pihak panitia lewat e-mail dan telepon. Gambaran acara kunjungan per harinya juga sudah diberikan, paling yg perlu dibawa buat jaga-jaga adalah uang tunai karena mungkin di beberapa lokasi jumlah ATM tidak sebanyak di Jakarta. Oke, untuk sementara gue puas bisa liburan akhir tahun di tengah-tengah bulan begini, padahal tadinya sempat kuatir batal karena kerjaan. So, Padang, here I come….